TUGAS ETIKA KRISTEN

Nama : Molo Juniwe Akulas
NIM : 15310096
Kelas : A
UNIVERSITAS KRISTEN ARTHA WACANA
FAKULTAS HUKUM
KUPANG
2016
Blaise Pascal
Le Coeur
Le
coeur a ses raison ne connait point
(Hati mempunyai alasan-alasan yang tidak dimengerti oleh rasio) adalah ungkapan Pascal yang sangat terkenal.Dengan
pernyataan ini Pascal tidak bermaksud menunjukkan bahwa rasio dan hati itu
bertentangan. Hanya saja menurut Pascal, rasio atau akal manusia tidak akan
sanggup untuk memahami semua hal.Baginya "hati" (Le coeur)
manusia adalah jauh lebih penting.
Hati
yang dimaksudkan oleh Paskal tidak semata-mata berarti emosi. Hati adalah pusat dari segala aktivitas jiwa manusia
yang mampu menangkap sesuatu secara spontan dan intuitif. Rasio manusia hanya
mampu membuat manusia memahami kebenaran-kebenaran matematis dan ilmu alam.
Dengan memakai hati, manusia akan mampu memahami apa yang lebih jauh daripada
itu yakni pengetahuan tentang Allah.
Kebenaran
tidak hanya diketahui oleh akal saja tetapi juga dengan hati, bahkan menurut
Paskal untuk dapat mengenal Allah secara langsung manusia harus menggunakan
hatinya. Dengan demikian Paskal hendak menegaskan bahwa rasio manusia itu
memiliki batas sedangkan iman tidak terbatas.
Le Pari
Le
Pari atau "Pertaruhan" adalah
argumen Paskal lainnya yang terkenal. Gagasan ini terkait dengan persoalan
mengenai ada tidaknya Allah dalam sejarah filsafat.
Ada orang-orang-orang skeptik yang kerap kali mencemooh orang-orang Kristen
yang percaya bahwa Allah itu ada sementara mereka sendiri tidak dapat
membuktikan secara rasional bahwa Allah itu tidak ada. Ia kemudian membuat
sebuah pertaruhan mengenai ada atau tidaknya Allah.
Dalam
hal ini Paskal mengambil posisi sebagai orang yang percaya akan adanya Allah.
Alasannya, bila ternyata Allah memang ada, orang-orang yang percaya kepada
Allah akan menang dan hidup berbahagia bersama Allah yang diimani di sorga kelak. Sementara bila ternyata Allah memang tidak ada
dan orang-orang percaya kalah maka mereka tidak akan menderita kerugian apapun.
Hidup baik yang telah mereka jalani selama berada di dunia sudah merupakan keutamaan yang membuat kehidupan
mereka dan orang lain bahagia.
Cogito
ergo sum
Cogito ergo sum adalah sebuah ungkapan yang diutarakan
oleh Descartes, sang filsuf ternama dari Perancis. Artinya adalah:
"aku berpikir maka aku ada". Maksudnya kalimat ini membuktikan bahwa
satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang sendiri.
Keberadaan ini bisa dibuktikan dengan fakta bahwa ia bisa berpikir sendiri.
Jika dijelaskan, kalimat "cogito ergo sum" berarti
sebagai berikut. Descartes ingin mencari kebenaran dengan pertama-tama
meragukan semua hal. Ia meragukan keberadaan benda-benda di sekelilingnya. Ia
bahkan meragukan keberadaan dirinya sendiri.
Descartes berpikir bahwa dengan cara meragukan semua hal
termasuk dirinya sendiri tersebut, dia telah membersihkan dirinya dari segala
prasangka yang mungkin menuntunnya ke jalan yang salah. Ia takut bahwa mungkin
saja berpikir sebenarnya tidak membawanya menuju kebenaran. Mungkin saja bahwa
pikiran manusia pada hakikatnya tidak membawa manusia kepada kebenaran, namun
sebaliknya membawanya kepada kesalahan. Artinya, ada semacam kekuatan tertentu
yang lebih besar dari dirinya yang mengontrol pikirannya dan selalu mengarahkan
pikirannya ke jalan yang salah.
Sampai di sini, Descartes tiba-tiba sadar bahwa bagaimanapun
pikiran mengarahkan dirinya kepada kesalahan, namun ia tetaplah berpikir.
Inilah satu-satunya yang jelas. Inilah satu-satunya yang tidak mungkin salah.
Maksudnya, tak mungkin kekuatan tadi membuat kalimat "ketika berpikir,
sayalah yang berpikir" salah. Dengan demikian, Descartes sampai pada
kesimpulan bahwa ketika ia berpikir, maka ia ada. Atau dalam bahasa Latin:
COGITO ERGO SUM, aku berpikir maka aku ada
Baruch
de Spinoza
Substansi Tunggal
Pandangan Spinoza mengenai substansi tunggal merupakan
tanggapannya atas pemikiran Descartes tentang masalah substansi dan hubungan
antara jiwa dan tubuh. Dalam filsafat Descartes, terdapat sebuah permasalahan
yaitu bagaimana Allah, jiwa, dan dunia material dapat dipikirkan sebagai satu
kesatuan utuh? Dalam bukunya Ethica, ordine geometrico demonstrata
(Etika yang dibuktikan dengan cara geometris), Spinoza mencoba menjawab
permasalahan ini. Ia memulai menjawab permasalahan dari filsafat Descartes
dengan memberikan sebuah pengertian mengenai substansi. Substansi dipahami
sebagai sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri dan dipikirkan oleh dirinya
sendiri, artinya sesuatu yang konsepnya tidak membutuhkan konsep lain untuk
membentuknya. Menurut Spinoza, sifat substansi adalah abadi, tidak terbatas,
mutlak, dan tunggal-utuh. Bagi Spinoza, hanya ada satu yang dapat memenuhi
definisi ini yaitu Allah. Menurut Spinoza,
sifat substansi adalah abadi, tidak terbatas, mutlak, dan tunggal-utuh. Bagi
Spinoza, hanya ada satu yang dapat memenuhi definisi ini yaitu Allah. Hanya Allah yang memiliki
sifat yang tak terbatas, abadi, mutlak, tunggal, dan utuh. Selain itu, Spinoza
juga mengajarkan apabila Allah adalah satu-satunya substansi, maka segala yang
ada harus dikatakan berasal daripada Allah. Hal ini berarti semua gejala
pluralitas dalam alam baik yang bersifat jasmaniah (manusia, flora dan fauna,
bahkan bintang) maupun yang bersifat rohaniah (perasaan, pemikiran, atau
kehendak) bukanlah hal yang berdiri sendiri melainkan tergantung sepenuhnya dan
mutlak pada Allah. Untuk menyebut gejala ini, Spinoza menggunakan sebuah
istilah yaitu modi. Modi merupakan bentuk atau
cara tertentu dari keluasan dan pemikiran. Dengan demikian, semua gejala dan
realitas yang kita lihat dalam alam hanyalah modi saja dari Allah
sebagai substansi tunggal. Dengan kata lain, alam dan segala isinya adalah
identik dengan Allah secara prinsipil.
Kata kunci ajaran Spinoza adalah Deus sive natur
(Allah atau alam). Yang berbeda dari ajaran ini hanyalah istilah dan sudut
pandangnya saja. Sebagai Allah, alam adalah natura naturans (alam yang
melahirkan). natura naturans dipandang sebagai asal usul, sebagai sumber
pemancaran, sebagai daya pencipta yang asli. Sebagai dirinya sendiri, alam
adalah natura naturata (alam yang dilahirkan) yaitu sebuah nama untuk
alam dan Allah yang sama tetapi dipandang menurut perkembangannya yaitu alam
yang kelihatan. Dengan ini Spinoza membantah ajaran Descartes bahwa realitas
seluruhnya terdiri dari tiga substansi (Allah, jiwa, materi). Bagi Spinoza
hanya ada satu substansi saja, yakni Allah/alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar